STIM Lasharan Jaya Makassar GELAR SEMINAR MANAJEMEN KARAKTER

http://STIM Lasharan Jaya Makassar GELAR SEMINAR MANAJEMEN KARAKTER

Makassar, Humas.
Pandemi Covid-19 yang baru-baru ini melanda dan sempat meluluh-lantakkan perekonomian dunia diprediksi oleh banyak pakar akan membuat peradaban manusia kembali keabad kegelapan seperti abad pertengahan. Namun, faktanya tidak sepenuhnya benar terjadi. Malah situasi tersebut oleh beberapa kalangan dijadikan sebagai titik balik atau turning point untuk melepas bebas daya kreativitas serta menyadarkan mereka bahwa dunia memang telah berubah dengan dahsyat dan tak bisa diramalkan.

Sepenggal kalimat diatas adalah kata pembuka yang disampaikan Dr. Sukriansyah S. Latief, SH, MH, atau yang akrab disapa Uki, staf khusus Wakil Presiden Republik Indonesia saat menjadi pemateri pada acara Seminar Manajemen Karekter dengan tema “Membangun Karakter, Kreativitas dan Inovasi di Era Digitalisasi” yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Lasharan Jaya Makassar, Minggu (21/5/23) pagi.

Pada kesempatan membuka seminar, Dr. Hernita, SE, MM, Ketua STIM Lasharan Jaya menyampaikan agar mahasiswa yang hadir memanfaatkan moment ini sebaik-baiknya dengan menimba ilmu pengetahuan, menambah wawasan dan meningkatkan keterampilan pada pemateri yang memilki segudang pengalaman dan kini telah berkiprah di level nasional.

Hernita menyinggung tentang pentingnya Surat Keterangan Pendampingan Ijazah atau disingkat SKPI. SKPI menjadi “wajib” agar seseorang bisa memenuhi syarat dan kriteria ketika bersaing memasuki dunia kerja. SKPI merupakan pengetahuan atau keterampilan diluar pendidikan formal seperti menguasai IT, kemampuan berbahasa dan beragam prestasi. “Semua ilmu dan skill tersebut sangat dibutuhkan dan kini menjadi tolok ukur seseorang bisa diterima bekerja”, tutur wanita lulusan doktor ilmu pendidikan ekonomi UNM Makassar tahun 2015.

//Berubah//

Terkait dengan tema seminar, lebih lanjut Uki mengatakan bahwa perubahan dahsyat yang terjadi benar-benar menjadi tantangan yang sangat urgent dalam segala lini kehidupan, terutama dunia bisnis dan usaha. Karakter yang menyertai era digital ini menjadikan manusia hanya punya dua opsi pilihan ; berubah atau mati. Dicontohkan beberapa perusahaan raksasa semisal Nokia, Kodak, Motorolla, General Motor, Myspace yang beberapa tahun dimasa kejayaannya merajai kancah bisnis dunia, dan kini semuanya punah seperti punahnya dinosaurus.

Penyebabnya, bisnis tersebut tak mau melakukan perubahan dan merasa nyaman dengan apa yang telah diraih.
Agar bisa bertahan bahkan unggul dalam situasi yang sangat cepat berubah karena gempuran teknologi adalah memiliki karakter yang kuat. Kejujuran menempati urutan pertama yang wajib dimiliki, ditambah disiplin, selalu berusaha, pantang menyerah punya karakter dan terus belajar, tambah Uki. “Dibutuhkan kreatifitas dan daya inovasi dalam menyikapi perubahan besar yang terjadi dengan bantuan digital”, tutur wartawan yang juga berprofesi sebagai dosen pada satu perguruan tinggi swasta di kota Makassar.

Pada penghujung seminar, moderator acara Dr. Iwan Perwira menyampaikan hal terkait perubahan dengan mengutip pernyataan charles Darwin, seorang naturalis dan ahli geologi Inggris yang terkenal sebagai biologi evolusioner yang mengatakan “bukan makhluk yang terkuat dan terpintar yang akan bertahan, melainkan yang paling bisa beradaptasi dengan perubahan”. Seminar manajemen karakter diikuti sekitar 200 mahasiswa dan dihadiri sejumlah pejabat kampus diantaranya Guntur Suryo Putro, SE, MM (wakil ketua I bidang akademik), Muhammad Amsal Sahban, SE, MM, Ph.D (wakil ketua II bidang keuangan), Arfiany, SE, MM (wakil ketua III bidang kemahasiswaan) dan Dr. Iwan Perwira, SE, MM (Ketua program studi pasca sarjana). Tampak sejumlah dosen hadir seperti Dr. Mustamin, SH, MH, Dr. Andi Batary Citta, SE, MM dan Muharram, SE, MM.

Diakhir acara diadakan kuis yang dipandu Arfiany, dan bagi yang bisa menjawab mendapatkan hadiah menarik. Mahasiswa sangat antusias mengikuti dan sigap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan hingga puluhan hadiah ludas tak bersisa.

(Humas STIMLASH)