MOU

STIM Lasharan Makassar – UIN Lampung Jalin Kerjasama

Kerjasama

Pedoman Karya10:56 PM

MoU
MoU antara STIM Lasharan Jaya Makassar dan UIN Raden Intan Lampung

Selasa, 18 Desember 2018

STIM Lasharan Jaya Makassar – UIN Raden Intan Lampung Jalin Kerjasama

– Amsal Sahban Liba Pemateri Workshop Olah Data Penelitian
MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Lasharan Jaya (STIMLash Jaya) Makassar resmi menjalin kerjasama dengan Universitas IslaMOUm Negeri (UIN) Raden Intan Lampung.

Mengawali kerjasama tersebut, UIN Raden Intan mengundang salah seorang dosen STIMLash Jaya, yakni Amsal Sahban Liba PhD, menjadi pemateri Pelatihan Pengolahan Data Kuantitatif Penelitian Karya Ilmiah untuk Ekonomi, Manajemen & Bisnis, di Hotel De Green City, Lampung, Ahad, 16 Desember 2018.

Workshop yang diorganisir oleh Ikatan Mahasiswa Magister Ekonomi UIN Raden Intan Lampung itu dihadiri lebih dari 50 peserta, terdiri atas dosen dan mahasiswa program pascasarjana Ekonomi Syariah.

“Para peserta terlihat sangat semangat dalam mengikuti pelatihan ini, sampai-sampai saya agak kesulitan melanjutkan ke tahap berikutnya karena banyaknya pertanyaan,” kata Amsal, kepada wartawan di Makassar, Selasa, 18 Desember 2018.

Amsal yang juga chief editor Jurnal Aplikasi Manajemen, Ekonomi dan Bisnis, mengatakan, workshop diawali dengan mempelajari teknik perumusan masalah dan penyelesaiannya sesuai dengan Reseach Gap dan Fenomena Bisnisnya, dilanjutkan dengan proses Pengembangan Model dan pemastian Variabel dan Indikator.

Setelah para peserta memahami model penelitian tersebut, mereka didorong untuk praktek terampil dalam mengolah data menggunakan SPSS dan AMOS.

“Mereka terlihat sangat antusias dalam mempelajari olah data penelitian dengan menggunakan Software SPSS dan AMOS, mengingat tuntutan publikasi penelitian di UIN Raden Intan Lampung mengharuskan para dosen dan mahasiswa pascasarjana bekerja keras untuk dapat menguasai keterampilan olah data tersebut,” tutur Amsal.

Dia mengatakan, sebagai kelanjutan dari kerjasama antara STIMLash Jaya Makassar dengan UIN Raden Intan Lampung, maka akan ada pelatihan lanjutan untuk para dosen dan mahasiswa pascasarjana UIN Raden Intan. (sal)

6

Ketua II STIM Lasharan Jaya Nara Sumber Pre-Conference di Unhas

6

MAKASSAR – Dosen STIM Lasharan Jaya, Muh. Amsal Sahban, Ph.D menjadi salah seorang nara sumber pada pre-conference workshop di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hassanuddin.

Acara konferensi berjudul The 3th International Conference on Accounting, Management, and Economics (ICAME – 2018) berlangsung selama 2 hari, yakni 4-5 November 2018.

Acara ini dihadiri oleh puluhan peserta yang berasal dari beberapa negara seperti Thailand, Pakistan, Singapore dan Malaysia.

Dalam kesempatan workshop ini hadir pula Dekan Fakultas Ekonomi Unhas Prof. Rahman Qadir, M.Si.

Ketua panitia konferensi internasional, Andi Reni, M.Si, Ph.D. dan juga turut hadir Vice President of Suratthani Rajabhat University, Thailand.

Materi yang diberikan oleh Muh. Amsal Sahban memberikan materi workshop Atlas.ti yang berguna pada menyusun telaah pustaka.

Dilanjutkan dengan pelatihan Mendeley berguna untuk menyusun atau mengelola daftar pustaka. Workshop ini berlangsung dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang, katanya. (*)

FOTO AMSAL

Jumlah Publikasi Masih Kurang, Puluhan Dosen dan Peneliti Menghadiri Workshop Riset dan Manajemen Publikasi Ilmiah di UNHAS

FOTO AMSALPenelitian seakan menjadi momok yang menakutkan bagi para civitas akademika.  Ini dilihat dari kurangnya jumlah penelitian di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara tetangga.  Berbagai kegiatan lokakarya maupun workshop telah dilaksanakan untuk menambah keahlian mereka dalam meneliti agar mereka mampu membuat karya Ilmiah bertaraf nasional dan internasional.  Salahsatunya adalah kegiatan workshop yang baru-baru ini diadakan di Aula Pascasarjana Univeritas Hassanuddin.

Oleh karena itulah, dosen STIM Lasharan Jaya Makassar, Muh. Amsal Sahban, Ph.D dan juga sebagai Associate Fellow of Center for Sustainability Research and Consultancy diundang sebagai salahsatu narasumber untuk memberi pelatihan  mengenai riset dan manajemen publikasi ilmiah di Aula Pascasarjana Lt.3 Universitas Hassanuddin, Makasar.

Workshop ini dilaksanakan selama 2 hari pada tanggal 14-15 September 2017.  Tujuan utama dari workshop ini adalah untuk memberikan wawasan, ide, dan tema penelitian keuangan dan bisnis  terkini yang berusaha merespon persoalan-persoalan yang dihadapi pemerintahan dan Industri bisnis, serta memberikan solusi yang bersifat aplikatif dalam rangka mengembangkan karya-karya penelitian dosen Indonesia dan diseminasi hasil-hasil penelitian seluas mungkin pada masyarakat.

Kegiatan ini juga merupakan upaya kerjasama HSBC-PSF Project dengan para pengelola jurnal nasional Indonesia yang tergabung dalam Relawan Jurnal Indonesia (RJI), Universitas Hasanuddin dan Sampoerna University.

Peserta workshop yang hadir sebanyak 97 orang yang terdiri dari berbagai latar belakang.  56 diantaranya adalah Dosen, 23 orang berlatar belakang peneliti dan sisanya berasal dari mahasiswa pascasarjana dan pengelola jurnal.

Selain Amsal, Ph.D terdapat pula beberapa narasumber yang diundang diantaranya adalah Wahyoe Soedarmono, PhD (HSBC-PSF Project Manager), Prof Marzuki, PhD, DEA (Monetary Economics & Finance Expert – FEB UNHAS) dan Ari Warokka, PhD (Senior Research Fellow – Centro Internacional ”Carlos V” – UAM, Spain).

Amsal, Ph.D mengatakan bahwa “Jumlah penelitian di Indonesia masih sangat kurang dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapur dan Pilipina.  Oleh karena itu, kegiatan workshop ini sangat bermanfaat untuk para dosen dan mahasiswa pascasarjana yang ingin  mengasah kemampuan meneliti mereka.”

“Saat ini para dosen dan mahasiswa diharuskan untuk mempublikasikan artikel ilmiahnya baik ke jurnal nasional maupun ke jurnal Internasional.  Bagi para dosen, penelitian ini adalah sebagai syarat mutlak untuk melaksanakan tugas Tridarmanya.  Dan bagi para mahasiswa pascasarjana, artikel ilmiah ini dibuat sebagai salahsatu syarat untuk mengikuti ujian akhir.” tutupnya.

Amsal

STIMLASH JAYA Gelar Konferensi Internasional di Makassar

AmsalPerkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini begitu pesat, membuat setiap Negara berlomba-lomba untuk meningkatkan Human Capital nya  dengan cara menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi melalui dunia pendidikan.  Meningkatnya Human Capital dipercaya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi disuatu Negara.

Dalam rangka meningkatkan human capital di Indonesia bagian timur, Ketua II bidang administrasi dan umum STIM Lasharan Jaya, Dr (Cand) Muh.Amsal Sahban, SE., MM  berhasil melakukan kesepakatan kerjasama (MOU) dengan International Foundation for Research and Development (IFRD).  MOU yang gagas oleh  Dr. (Cand) Amsal telah ditandatangani oleh kedua belah pihak pada tanggal 21 September 2015 di Universiti Utara Malaysia. Selain melanjutkan studi S3 di Malaysia, beliau membuat banyak kegiatan diantaranya menyelenggarakan workshop atau seminar dan melakukan MOU untuk penyelenggaraan konferensi internasional di Makassar. Beliau mengatakan bahwa kegiatan konferensi ini sangat bermanfaat untuk para dosen dan para professional yang berada di Makassar bahkan yang berada di luar negeri.

“Tujuan dari kolaborasi ini adalah untuk mewadahi para akademia dan profesional yang berada didalam maupun diluar negeri dengan berbagai ilmu pengetahuan terkini dibidang ekonomi, manajemen informasi, bisnis, pendidikan, ilmu  sosial, manajemen perusahaan dan teknologi.  Kegiatan ini juga bertujuan untuk memperluas wawasan para akademia, professional serta pembuat kebijakan agar dapat berkarya dan membuat keputusan yang lebih baik.” Pungkas penerima beasiswa luar negeri Pemprov Sulsel ini.

Dengan ditandatanganinya MOU tersebut, STIMLASH JAYA bersama dengan IFRD akan secara berkala melaksanakan kegiatan seminar dan konferensi internasional di Makassar.  Para peserta berkesempatan untuk bertukar pikiran serta mempublikasikan makalah atau papernya melalui kegiatan ini.  Caranya adalah dengan mendaftar dan mempresentasikan paper mereka dikonferensi internasional yang akan diadakan oleh STIMLASH JAYA pada 23-24 April 2016 mendatang di Hotel Clarion, Makassar.  Kegiatan konferensi ini juga didukung oleh editor dan reviewer berpengalaman internasional dibidangnya yang beperan secara aktif menyeleksi paper-paper yang layak untuk dipublikasikan.

Sebelumnya kegiatan ini sudah diadakan di Negara Indonesia, Malaysia, Turki, Ukraine, Thailand, India dan diberbagai Negara lainnya.  Sehingga sebagian besar peserta yang berpartisipasi dalam konferensi internasional ini berasal dari Negara yang berbeda-beda.  STIMLASH JAYA, Makassar merupakan institusi ke-3 di Indonesia yang telah menandatangani MOU dengan IFRD.  Sebelumnya adalah Universitas Dr. Soepomo, Surabaya dan Universitas Islam Sumatera Utara, Medan.

Amsal bertekad untuk menjadikan kegiatan ini sebagai kegiatan tahunan guna meningkatkan human capital khususnya didaerah Makassar dan juga sebagai wahana untuk menampung ide atau gagasan yang konstruktif.

“Harapan STIMLASH kedepannya adalah agar kegiatan ini dapat dijadikan kegiatan rutin setiap tahunnya dalam rangka meningkatkan human capital khususnya didaerah Makassar serta mampu mengumpulkan ide atau gagasan-gagasan yang konstruktif terutama dibidang manajemen, ekonomi, bisnis, pendidikan dan ilmu sosial.” Tutup Amsal.

 

profile-sahban-liba

Profil Dr. H Sahban Liba MM

profile-sahban-libaTak banyak orang yang masih punya motivasi belajar hingga usia tua. Tak banyak orang yang masih mau bekerja keras hingga usia tua. Tak banyak orang yang masih mampu bekerja hingga usia tua. Di antara yang tidak banyak itu adalah Letkol Marinir (Purn) Dr H Sahban Liba (73 tahun).

Pria kelahiran Kalosi, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan, 18 Agustus 1937 itu, hingga kini masih aktif mengajar, mengurus bisnisnya, serta memimpin langsung perguruan tinggi yang didirikannya di Makassar.

Perjalanan hidupnya cukup panjang dan berliku. Sahban Liba lahir dan menikmati masa kecilnya di Kabupaten Enrekang. Di usia remaja ia ikut orangtuanya (ayah Liba, ibu Empa) ke Makassar dan sekolah hingga kelas tiga pada dua SMP di Makassar, yakni SMP Muallimin Muhammadiyah (Jl. Muhammadiyah) dan SMP Perindo (Jl. Lamadukkelleng).

Sambil sekolah, Sahban membantu kakaknya yang berjualan kain di Pasar Butung Makassar. Suatu hari, ia membaca koran yang sudah tidak utuh dan agak lusuh. Di koran tersebut ada pengumuman tentang pemberian beasiswa ikatan dinas untuk sekolah pada sekolah menengah atas di Surabaya.

‘’Saya tidak tahu di mana itu Surabaya, tetapi saya sangat ingin sekolah di sana. Umur saya waktu itu sudah 17 tahun. Saya kemudian meminta izin orangtua dan kakak. Saya lalu mengurus surat keterangan sekolah di SMP Muallimin Muhammadiyah. Kemudian saya berangkat ke Surabaya dengan naik kapal laut. Saya membawa bekal uang Rp 250, tetapi tiba di Surabaya uang saya tinggal Rp 140, karena ongkos naik kapal laut Rp 110,’’ ungkap ayah empat anak dan kakek dari tiga cucu itu kepada tim wartawan tabloid ‘’Cerdas’’, Asnawin, Decy Wahyuni, dan Abdul Wahab, di ruang kerjanya, akhir April 2010.

Selama enam bulan pertama di Surabaya, Sahban tidur di masjid. Kemana-mana ia selalu jalan kaki. Semua itu dilakukan karena ia harus menghemat uangnya. Dalam tempo enam bulan itu, ia berhasil lulus pada ujian persamaan Sekolah Guru Bawah (SGB) Surabaya dan kemudian lulus tes masuk Sekolah Guru Atas (SGA) Surabaya yang memberi beasiswa ikatan dinas.

‘’Kebetulan saya kuat sekali pada mata pelajaran Aljabar, Ilmu Ukur, Ilmu Alam, Ilmu Bumi, dan Sejarah,’’ sebutnya.

Setelah tamat SGA dan sambil mengajar di beberapa sekolah, Sahban melanjutkan kuliah di IKIP Malang. Di sana ia bertemu dan bersahabat dengan Malik Fajar yang belakangan menjadi Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Nasional. Mereka berdua aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Selain kuliah di IKIP Malang, ia juga kuliah di Universitas Merdeka Malang.

Ada sebuah peristiwa yang tidak bisa dilupakan Sahban saat kuliah di Malang, yaitu ketika meletus peristiwa Gerakan 30 September PKI yang kemudian dikenal dengan nama G-30.S-PKI. Saat itu, Asrama Sulawesi di Jl. Kunir No. 15, diserang oleh orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI) dan memukuli mahasiswa yang aktif di HMI. Semua mahasiswa yang ada di asrama ketika itu mendapat pukulan dan tendangan, serta poporan senjata, kecuali Sahban.

‘’Teman-teman menganggap saya punya ilmu bisa menghilang, padahal kebetulan waktu mereka datang saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Waktu itu fisik saya cukup kuat dan bisa bertahan tidak jatuh dari bawah tempat tidur dengan cara menekan dua kaki dan dua tangan ke papan tempat tidur. Waktu orang-orang PKI datang, mereka memeriksa di kolong tempat tidur dengan cara mengayunkan senjata dan pedang, tetapi mereka tidak pernah menyangka bahwa saya berada di bawah papan tempat tidur yang jaraknya hanya sekitar satu jengkal dari lantai,’’ papar Sahban seraya menyebut nama Abdul Pandare, salah seorang temannya yang mendapat siksaan orang-orang PKI.

Setelah situasi cukup aman, ia langsung meminta perlindungan di Angkatan Laut, karena kebetulan ia juga pelatih judo di Angkatan Laut. Tak lama kemudian ia ikut tes dan lulus masuk Angkatan Laut.

Sahban diterima di Marinir dan masuk anggota Korps Komando (KKO) Angkatan Laut. Ia kemudian dikirim ke hutan di Jawa Timur selama dua setengah tahun untuk latihan perang khusus. Pimpinan KKO ketika itu adalah Mayor Pangalela yang belakangan meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat terbang.

Setelah keluar dari hutan, Sahban langsung mendapat pangkat Letnan (KKO) TNI AL. Beberapa tahun kemudian, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mencari beberapa orang dari kalangan tentara untuk membantunya di Pemda DKI Jakarta, terutama untuk menertibkan guru-guru nakal. Dari marinir diambil 20 orang dan salah satu di antaranya adalah Sahban Liba.

‘’Banyak yang saya penjarakan, saya sita rumah, dan sebagainya,’’ kata suami dari Hj. Andi Nurlaela, serta ayah dari Hernita SE MM, AKBP Muh. Arsal SH MH, Muh. Amsal SE MM, dan Arfiany SE MM.

Beberapa tahun kemudian ia diangkat menjadi staf pribadi Ali Sadikin dan sempat mondar-mandir di Istana Presiden. Tahun 1977, Ali Sadikin pensiun, tetapi Sahban enggan kembali ke kesatuannya di Angkatan Laut, karena mantan anak buahnya sudah banyak lebih tinggi pangkatnya dari dirinya. Sahban memilih tetap dikaryakan dan menduduki beberapa jabatan struktural di Pemda DKI Jakarta hingga pensiun pada 17 Agustus 1995.

Mendirikan PTS

Selama dikaryakan di Pemda DKI Jakarta, Sahban melanjutkan kuliahnya yang terputus di IKIP Malang akibat peristiwa G-30.S-PKI. Ia memilih lanjut di IKIP Muhammadiyah Jakarta, dan kemudian lanjut ke program magister (S2) di Sekolah Tinggi Manajemen (STIMA) IMMI Jakarta.

Setelah pensiun, ia kemudian diangkat menjadi Manajer Personalia PT Betamix Jakarta di bawah pimpinan Prof Dr Ir Bun Yamin Ramto.

Atas anjuran beberapa koleganya, antara lain Mendiknas Prof Wardiman, Sahban kemudian memutuskan kembali ke Makassar dengan membuka usaha bisnis gedung serba guna Lasharan Garden Jaya dan mendirikan perguruan tinggi swasta (PTS).

PTS yang didirikannya yaitu Akademi Manajemen Perdagangan (Amdag) pada tahun 1998, yang kemudian ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Lasharan Jaya (STIM-Lash Jaya) pada Juli 2001. Perguruan tinggi yang berkampus di Jl Abdullah Daeng Sirua 10 itu telah menelorkan sekitar 300 alumni.

Di STIM-Lash Jaya, Sahban yang anak kedua dari Sembilan bersaudara, menerapkan disiplin semi-militer tetapi mendidik mahasiswa menjadi orang yang berjiwa entrepreneurship.

Meraih Gelar Doktor

Meskipun sudah tua dan semua anaknya telah cukup berhasil, Sahban rupanya belum mau pensiun atau berhenti beraktivitas. Tidak tanggung-tanggung, ia malah ‘’ nekad’’ melanjutkan kuliah pada program doktoral (S3) di Universitas Negeri Jakarta.
Ia kemudian berhasil menyelesaikan kuliahnya dan meraih gelar doktor pada 2009, dengan mengusung disertasi berjudul ‘’Evaluasi Pelaksanaan Kebijakan Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Periode 2003-2010.’’

‘’Saya kuliah sekaligus untuk memotivasi anak-anak saya. Mereka saya minta terus-menerus belajar dan meraih pendidikan setinggi-tingginya, karena Allah akan mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu,’’ tutur Sahban.

Di akhir perbincangan dengan ‘’Cerdas’’, ia mengutip nasehat Lukmanul Hakim kepada anaknya, bahwa ‘’alangkah indahnya apabila dalam diri seseorang terkumpul iman, ilmu, dan harta, sebaliknya alangkah malangnya seseorang apabila pada dirinya terkumpul kemiskinan, kesombongan, dan kebodohan.’’(asnawin, decy wahyuni, wahab)

Biodata:
Nama : Dr H Sahban Liba MM
Tempat/tgl lahir : Kalosi, 18 Agustus 1937
Isteri : Hj. Andi Nurlaela

Pendidikan :
– SD Negeri Kalosi
– SGB Negeri Surabaya
– SGA Negeri Surabaya
– IKIP Muhamadiyah Jakarta
– S2 Sekolah Tinggi Manajemen IMMI, Jakarta
– S3 Universitas Negeri Jakarta

Pekerjaan :
– Guru honorer di Surabaya
– Marinir TNI-AL di Jawa Timur
– Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta
– Dikaryakan di Pemprov DKI Jakarta
– Manajer Personalia PT Betamix Jakarta
– Direktur STIM Lasharan Jaya Makassar